Kamis, 16 Maret 2017

Timeline Fotografi (2)

1850 Jane Wigley (England) : Orang pertama yang menggunakan prisma yang dimasukkan ke dalam kamera untuk membalikkan objek yang terlihat terbalik (cikal bakal dari viewfinder TTL - Through The Lens, lubang kecil di kamera tempat melihat/mengintip objek).

1851 Frederick Scott Archer : Menciptakan proses baru (tidak dipatenkan sehingga semua orang bebas menggunakannya) dimana negatif film dibuat menggunakan kaca yang dilapisi dengan collodion (cairan yang mengandung pyroxylin / nitroselulosa dalam campuran etil eter dan etanol) dan salt, setelah itu dicelupkan pada silver nitrate.

1851 Collodion (wet plate) process introduced : Sebuah lompatan besar setelah Daguerrotype dan calotype, proses collodion menghasilkan foto dengan detail yang halus dan memungkinkan untuk mencetak dengan jumlah banyak. Proses collodion menjadi metode fotografi utama selama Perang Saudara AS.

Step by step collodion wet plate process :
  1. Lapisi kaca (yang berfungsi sebagai negative film) dengan collodion secara merata.
  2. Celupkan kaca pada cairan silver nitrate (larutan peka cahaya).
  3. Tempatkan kaca di kamera.
  4. Lakukan pemotretan (lama pengambilan gambar/exposure adalah 20 detik sampai 5 menit tergantung kecepatan reaksi silver nitrate pada cahaya).
  5. Keluarkan kaca dari kamera dan tuangkan larutan yang mengandung besi sulfat dan asam asetat. Bagian kaca yang terkena cahaya akan berwarna perak. Siram kaca dengan air.
  6. Bagian dari kaca yang tidak terkena cahaya (tidak berwarna perak) dihilangkan / dibersihkan menggunakan larutan Natrium tiosulfat.
  7. Cuci kaca dengan air lagi. Untuk menjaga foto dalam kondisi baik, lapisi kaca dengan pernis.
  8. Cetak foto ke kertas foto menggunakan negative kaca.
Source : Wet Plate Collodion Process


1853 The Photographic Society of London : (kemudian dikenal sebagai Royal Photographic Society di Inggris Raya) didirikan untuk fotografer amatir dan profesional yang tertarik di bidang foto seni. Sebagian besar foto-foto ini dimaksudkan untuk menjadi seni abstrak, dan para fotografer tersebut menemukan inspirasi dari lukisan (sementara beberapa pelukis menggunakan foto untuk inspirasi lukisan mereka). Cetakan format besar dibuat ketika gambar dicetak dari beberapa negatif film yang disusun menjadi satu. Foto pemandangan alam yang sangat sulit dibuat karena luasan yang bisa ditangkap film sangat terbatas dan film itu sendiri hanya peka terhadap warna biru.

1855 Stereoscopic Era : Awal era stereoskopis (stereoscopic, kondisi di mana kedua mata kita baik yang kiri dan kanan memiliki kemampuan melihat yang sama sehingga bisa menganalisa suatu jarak objek dengan lebih akurat), memungkinkan adanya hiburan dengan gambar 3-D yang unik. Era stereoskopik resmi berakhir pada sekitar awal abad ke-20.

1855 Direct Positive Images : Foto pada kaca (ambrotypes) dan logam (tintypes atau ferrotypes) menjadi populer di AS. Bertahan sampai saat ini dan menjadi peninggalan dari zaman dulu yang dicari.

1855 ReTouching : Kontroversi atas foto yang diubah (retouching) dimulai ketika Franz Hanfstaengle (fotografer terkemuka Jerman) menunjukkan foto sebelum dan sesudah proses retouching.

1856 Nadar : (seorang pelukis besar, adalah orang pertama yang menggunakan lampu listrik untuk menerangi lukisannya dan menjadi salah satu fotografer paling terkenal pada zamannya) menulis: "Fotografi adalah ilmu yang menggunakan kecerdasan tingkat tinggi, seni yang menggelitik pikiran yang paling tajam namun dapat dilakukan oleh siapapun, teori fotografi dapat diajarkan dalam satu jam, dimana teknik dasar fotografi dapat diajarkan dalam sehari. Tapi ada yang tidak dapat diajarkan yaitu rasa (feel) pada pencahayaan dan intelektualitas dari fotografer dalam memahami foto yang bagus, yang membedakannya dari foto yang biasa. "

1858 First Aerial Photograph : Nadar menjadi orang pertama yang melakukan pengambilan foto dari udara menggunakan balon udara.

1858 Fading Away by Henry Peach Robinson : Membuat foto seni (fine art photo, foto yang lebih menitikberatkan nilai estetika dan intelektual) yang sangat kontroversial, fotonya menggambarkan adegan seorang gadis yang "hampir mati" yang dikelilingi oleh keluarganya dengan nuansa kemiskinan yang kental. Nuansa kemiskinan terasa karena adegan tergambar dalam sebuah foto dimana foto selalu diasumsikan sebagai realita keadaan (hal itu tidak terjadi jika adegan dituangkan dalam sebuah lukisan).


1861 James Clerk Maxwell : Seorang fisikawan Skotlandia. Membuat warna-warna dari pencampuran tiga warna. Dia yang pertama kali menunjukkan sistem warna dalam fotografi. Menggunakan tiga foto hitam dan putih, yang masing-masing diambil melalui filter merah, hijau, dan biru. Foto tersebut kemudian diubah menjadi lantern slides (atau magic lantern, foto dipindah pada lembar kaca) dan diproyeksikan kembali menggunakan filter warna yang sama. Ini adalah metode “pemisahan warna”.




1862 Paul Sabatier (France) : Menjelaskan proses solarisasi (fenomena dalam fotografi di mana gambar yang direkam pada negatif film atau pada cetak foto seluruh atau sebagian terbalik dalam warna/tone, pada dasarnya area gelap tampak terang dan area terang tampak gelap) di jurnal Perancis. Dia kemudian dikenal sebagai penemu proses solarisasi tapi Blanchere lah yang pertama kali menyebarluaskan penelitian tentang proses tersebut tahun 1859.

1863 Julia Margaret Cameron : Fotografer Inggris yang ulung dan terkenal, mendapatkan kamera pertamanya. Dikenal karena karya fotonya dari orang-orang terkemuka di Era Victoria. Berkarir selama 11 tahun (1864-1875).

1866 Antony Samuel Adam-Salomon : (seorang pematung yang menjadi fotografer) karyanya menginspirasi Alphonese de Lamartine (yang pernah menyebut fotografi sebagai "meniru dari alam") mengaku : "Setelah mengagumi foto yang terperangkap dalam semburat cahaya matahari dari Adam Salomon, seorang pematung yang telah menyerah untuk melukis, tidak lagi bisa berkata bahwa fotografi adalah barang dagangan, tapi fotografi adalah seni, bahkan lebih dari sebuah seni, fotografi adalah fenomena matahari, di mana seniman bekerja sama dengan matahari. "

1866 Retouching : menjadi hal yang sangat umum bagi fotografer yang ingin menyembunyikan noda, menghaluskan suatu bagian, menghilangkan kerutan, dll, pada karya fotonya.

1866 Publicity Shots : ahli dalam mempublikasikan foto dari pesohor baru sejalan dengan permintaan untuk foto jenis ini yang terus meningkat, dimana pesohor berpose “dalam karakter” dan “pada latar” yang sesuai.

1871 Crime Scenes : Kepolisian Paris mulai menggunakan foto sebagai cara untuk merekam bukti-bukti di tempat kejadian perkara.

1871 Richard Leach Maddox (England) : Menciptakan lempeng kering gelatin perak bromida, yang memungkinkan negatif film diproses diwaktu lain dari saat pengambilan foto. Inovasi ini membuat fotografer tidak harus membawa peralatan untuk tehnik kamar gelap (proses pencetakan foto) di tempat pengambilan foto.

1872 Eadweard Muybridge : Karyanya yang paling terkenal dimulai pada tahun 1872, ketika ia disewa oleh Leland Stanford (dikenal sebagai pendiri Universitas Stanford) untuk memotret kuda. Stanford konon telah membuat taruhan pada saat itu, dia menyatakan bahwa keempat kaki kuda pacu melayang secara bersamaan, dan ia menyewa Muybridge untuk mengambil gambar untuk membuktikan bahwa dia benar. Hal ini sulit dilakukan dengan kamera yang ada masa itu, dan dipercobaan awal hanya dihasilkan gambar yang tidak jelas. Muybridge menjadi semakin tidak focus dalam bekerja karena ia mengetahui bahwa istrinya telah berselingkuh dan kemungkinan telah mempunyai anak dari hubungan gelap tersebut. Muybridge melacak kekasih istrinya dan membunuhnya dengan senjata api. Ketika Muybridge diadili, ia tidak menyangkal pembunuhan tersebut, tapi ia dibebaskan. Muybridge meninggalkan San Francisco dan menghabiskan dua tahun di Guatemala. Sekembalinya dari Guatemala, Muybridge kembali melakukan pengambilan foto kuda yang berlari, kali ini hasilnya jauh lebih baik. Ia menggunakan deretan kamera dengan kabel penghubung (tripwire), dimana masing-masing kamera akan mengambil foto kuda yang berlari dengan beda waktu pengambilan foto tiap kamera kurang dari satu detik. Hasil diskusi yang berlangsung sekali dan berlaku selamanya : empat kaki kuda pernah melayang pada waktu yang bersamaan.
Muybridge menghabiskan sisa karirnya untuk memperbaiki tekniknya, membuat berbagai macam studi gerak, mengajarkan, dan menerbitkan bahan pengajarannya. Ia menemukan zoopraxiscope (alat untuk menampilkan gambar bergerak), yang merupakan bentuk awal dari proyektor film modern. Dari upayanya dalam mempelajari gambar bergerak, ia dianggap sebagai salah satu bapak dari film. Sama seperti foto pertama dari Niepce, gambar bergerak milik Muybridge menunjukkan suatu bentuk seni yang baru. Pada akhir hidupnya, Muybridge kembali ke Inggris, di mana ia meninggal pada tahun 1904.




1879 Edward Steichen (USA) born : Seorang fotografer terkenal, Steichen adalah kurator pertama foto-foto di Museum Modern Art di New York. (D. 1973)

1879 Ilford (UK) : Ilford mulai memproduksi peralatan fotografi dalam skala besar.

1880 Dry Plate : George Eastman mengembangkan lempeng kering (dry plate) dan mulai memproduksi dalam jumlah besar. Di usianya yang ke-24 mendirikan Eastman Dry Plate Company di New York. 




1888 Celluloid film invented : Hal ini menjadi cikal bakal dari semua modern foto dan film. Bahannya ringan, meskipun mudah terbakar, membuat lempeng kaca menjadi piranti usang di bidang fotografi dan memungkinkan fotografi dikenal luas masyarakat umum.

1888 Kodak (USA) : George Eastman mematenkan merk “Kodak” yang merupakan kamera ringan pertama yang paling terkenal seharga $ 25. Kamera tersebut memuat 20 foot gulungan kertas foto (sekitar 6 m) yang cukup untuk membuat 100 foto. Untuk mencetak foto, kamera harus diserahkan ke Eastman Dry Plate Company di New York dengan biaya pencetakan sebesar $ 10.  



1888 The Royal Geographic Society : National Geographic pertama kali diedarkan di Amerika Serikat. Majalah tersebut berisi ulasan tentang alam, geografi dan antropologi.

1889 Eastman Company : didirikan oleh George Eastman.

1889 Documentary photography : (Seorang fotografer) dapat dikatakan telah lahir ketika The British Journal of Photography mendesak pembentukan arsip besar untuk foto-foto yang mengandung sejarah, selengkap mungkin yang bisa dibuat.

1890 Photography School : Dibukanya sekolah pertama yang didedikasikan untuk mempelajari teknik fotografi dan retouching foto. Hanya mereka yang mampu membayar biaya kuliah dan mau pergi jauh dari rumah yang bisa masuk ke sekolah ini.

1891 Rodinal : Pencetakan foto menggunakan bahan kimia Rodinal membuat foto menjadi lebih halus, bahan kimia ini dikenalkan oleh Agfa. Sampai saat ini, bahan Rodinal masih dipakai dalam proses pencetakan foto karena mudah digunakan dan hasil fotonya berkualitas tinggi.


1892  Eastman Kodak Company : Eastman Company berubah nama menjadi Eastman Kodak Company dan menjadi produsen paling produktif dari bahan fotografi di dunia.



1 komentar: