Cat Steven yang masih bergulat dengan masa lalunya – dan
akhirnya menjadi pemenang.
Yusuf Islam calls his Rock and Roll Hall of Fame induction "glorious," adding "And Nirvana was explosive." LEON NEAL/AFP/Getty Images
Tidak
ada yang menyadari kehadiran Yusuf Islam di acara penganugrahan musik Rock and
Roll tahun 2014. Penonton terpaku pada penampilan yang memukau dari grup band Nirvana
dengan personel lengkap yang membawakan lagu berjudul Kiss, sebagian besar tidak
tahu bahwa Cat Stevens, seorang penyanyi solo pria Amerika, akan tampil untuk
yang pertama kali sejak berhenti bermusik pada tahun 1978.
Yusuf Islam at the Rock And Roll Hall Of Fame Induction Ceremony in April. Kevin Mazur/WireImage
Setelah
pidato penerimaan penghargaan yang singkat dan penuh kebahagiaan, tanpa
menyinggung persoalan agama atau politik, Yusuf tampil dengan gitar akustik dan
menyanyikan "Father and Son" yang hit pada tahun 1970-an, dan
berhasil membungkam Barclays Center di Brooklyn. Pada saat paduan suara mengiringi
Yusuf di lagu "Peace Train," hampir semua penonton berdiri dan ikut bernyanyi.
"Sangat megah," kata Yusuf. "Sangat menyenangkan bisa bernyanyi
tanpa ada batasan apapun, dan tambahan paduan suara benar-benar membuat akhir
yang sangat menakjubkan. Anakku mengenalkan aku pada musik Nirvana beberapa tahun
yang lalu, dan penampilan mereka selalu meledak."
Sekarang,
delapan bulan kemudian (artikel asli ditulis
pada tgl 13 Januari 2015), dan Yusuf, 66, sedang menyeruput teh di ruang
konferensi di gedung pencakar langit Sony di tengah kota Manhattan. Ditemani
pengawal setianya, seorang laki-laki gemuk dengan tinggi sekitar 1.8 meter, duduk
di bangku piano. Anak laki-laki Yusuf berusia 29 tahun, Yoriyos, duduk dan asyik
dengan laptopnya. Uban di rambut Yusuf terlihat lebih banyak, dia memakai
kacamata hitam, kaos abu-abu dengan logo Peace Train 2011 dan jaket biru. Penampilan
yang berbeda sejak kembalinya ke dunia musik delapan tahun lalu, dia terlihat
seperti bintang rock.
Walau
telah bergaya santai dan bersikap ramah, Yusuf tampak tetap disegani oleh
orang-orang disekelilingnya. Yoriyos menunjukkan rasa ketidaknyamanan jika pertanyaan
yang diajukan ke ayahnya keluar dari bahasan seputar musik, selain itu ada dua wartawan
yang menunggu di luar. Sebelum wawancara, mereka mendesak saya untuk lebih
berhati-hati ketika akan membicarakan masalah "agama dan kontroversi di masa
lalu."
Percakapan
dimulai dengan tema yang jelas yaitu : Tell 'Em I'm Gone, album dari Yusuf dengan sentuhan
musik R & B, adalah album ketiganya sejak 2006. Yusuf pindah ke Dubai pada
tahun 2010 ("Aku suka sinar matahari", katanya) tapi kembali ke Los
Angeles untuk merampungkan albumnya yang diproduseri oleh Rick Rubin.
"Kami mengerjakan semuanya dalam seminggu," kata Yusuf.
"Beberapa lagu yang direkam adalah lagu baru. Aku tidak suka terlalu lama
di studio”. Beberapa kali dia ingin segera mengakhiri rekamannya, Yusuf
berkata," Aku sudah menyelesaikannya, Rick. Aku tidak ingin melakukannya
lagi”.
Yusuf
baru-baru ini melakukan tur di Amerika Utara untuk yang pertama kali sejak
tahun 1976. Tiket pertunjukan di Beacon Theatre New York terjual habis, tapi
kemudian dia membatalkannya karena panitia melarang penjualan tiket secara
online (paperless ticketing, pada mekanisme penjualan paperless ticket
dibutuhkan nomor ID/KTP dari pembeli serta kartu kredit untuk pembayarannya
sehingga tiket tidak bisa digunakan oleh orang lain atau dijual ke orang lain),
sehingga saat itu banyak ditemukan tiket yang dijual kembali (calo tiket). "Seperti
membenarkan bisnis percaloan, padahal itu salah," kata Yusuf.
Pembatalan
pertunjukan di Beacon yang dilakukan oleh Yusuf adalah tindakan yang berani,
berprinsip dan (menggambarkan) kepribadiannya yang dibentuk dari perjalanan
karir yang panjang. Ia lahir dengan nama Steven Demetre Georgiou di London,
putra dari seorang ayah Yunani dan ibu Swedia. Georgiou lahir di era dimana
kota kelahirannya menjadi pusat musik Rock dunia. "Aku sangat
beruntung," katanya. "Aku tinggal di jalan yang sama dengan 100 Club
(tempat yang menampilkan pertunjukan musik dan komedi secara langsung), dan Dick
James Music (yang mengenalkan grup band Beatles) hanya berjarak 4 rumah dari
kedai kopi ayahku. Semuanya sangat dekat di West End London”.
Saat Mendengar Bob Dylan untuk pertama kali, tanpa disadarinya hal
itu akan mengubah hidupnya. Georgiou muda yang masih berumur 18 tahun, mulai
bermain di café-cafe di London dengan nama Cat Stevens dan menulis lagu yang
abadi seperti "The First Cut Is the Deepest". Walau sempat didera
penyakit tuberkulosis pada tahun 1968 dan hampir menewaskannya, karirnya bersinar
di tahun 1970 ketika "Father and Son" dan "Wild World" menjadi
lagu yang paling sering diperdengarkan di radio. Saat itu adalah masa yang
sulit untuk seorang penyanyi-penulis lagu, dan Stevens berada di jalur yang
tepat dan kemudian disejajarkan dengan James Taylor dan Carly Simon.
Ketika
ia menjadi seorang superstar, Stevens tidak memiliki waktu untuk beristirahat –
penyakit tuberkolosis menjadi akibat dari gaya hidupnya. "TB adalah jenis penyakit
yang sangat menyedihkan," katanya. "Aku melakukan LSD beberapa kali,
tapi aku harus meninggalkan kehidupan ala bintang rock karena aku sangat mengkhawatirkan
kesehatan. Aku menjadi seorang vegetarian, dan kemana-mana membawa koper yang
dipenuhi vitamin dan minuman khusus”.

Yusuf Islam in 1975. George Wilkes/Hulton Archive/Getty Images
Semuanya
berubah di satu hari di tahun 1976, ketika Stevens pergi berenang di laut dekat
Malibu. Saat ia mencoba untuk berenang kembali ke pantai, ia menyadari arus
saat itu terlalu kuat untuk dilawan, dan setelah berjuang selama beberapa waktu
dia merasa bahwa dia akan tenggelam. "Aku tidak punya kekuatan yang
tersisa," kata Yusuf. "Hanya ada satu tempat untuk pergi, dan itu
adalah Tuhan. Aku tidak pernah meragukan keberadaan Tuhan, tapi aku tidak
pernah meminta kepada Nya karena semuanya tampak baik-baik saja dalam hidupku.
Ini adalah antara hidup dan mati”.
Dia berjanji kepada Tuhan untuk patuh pada semua perintah dan
larangan Nya jika Tuhan menyelamatkannya saat itu, dan tiba-tiba gelombang
mendorongnya ke pantai. Tidak lama setelah itu, kakaknya, David, memberinya
salinan Quran. "Ini terjadi sebelum Islam dikenal orang”, kata Yusuf.
"Bahkan Revolusi Iran tidak diketahui banyak orang. Aku merasa seperti menemukan
suatu rahasia yang menakjubkan dan agung”.
Dalam
waktu dua tahun, Cat Stevens telah menjadi Yusuf Islam. Ia mengabdikan dirinya
untuk Allah, mengatakan bahwa semua bentuk musik bertentangan dengan iman. Dia menjauh
dari kontrak rekaman dan menjual seluruh gitarnya. Pendapatan satu-satunya berasal
dari penerbitan, dia juga menyerahkan royalti dari lagu yang dia sebut sebagai anti-Tuhan
karena cenderung untuk memperturutkan nafsu belaka : "Segala sesuatu yang
mendorong cinta tanpa diikuti pernikahan atau hanya mengarah ke keinginan
seksual". Lagu jenis itu berjumlah sekitar 40 persen dari kumpulan
lagu-lagunya. "Take 'The Boy With a Moon and Star on His Head ', mungkin isi lagu itu
tidak mengganggu Anda, tapi di lagu itu diceritakan tentang seorang laki-laki
yang bersetubuh dengan putri seorang petani disaat sang laki-laki sedang menuju
tempat pernikahannya. So, no.... "
Yusuf tak pernah lagi berhubungan dengan dunia musik. "Aku
samar-samar tahu hal-hal seperti Madonna, MTV, Michael Jackson dan yang terjadi
pada mereka, tapi aku tidak tertarik sama sekali," katanya. "Hal
terakhir yang aku ingat adalah karya besar dari Stevie Wonder yaitu album Songs
in the Key of Life". Yusuf disibukkan dengan mengurus keluarganya, sekolah
Muslim yang dia dirikan di Inggris, dan yayasan Small Kindness, sebuah badan
amal untuk membantu para korban perang dan bahaya kelaparan di negara
berkembang.
Selama bertahun-tahun, anak-anak Yusuf mencoba mengembalikannya
untuk bermusik lagi. Kemudian, suatu hari, beberapa bulan setelah 9/11, Yusuf memainkan
gitar akustik milik anak laki-lakinya. Saat itu sudah larut malam, dan keluarganya
sedang tidur. "Aku berpikir, 'Tidak ada salahnya mencoba,'" katanya.
"Aku memainkan nada F, dan aku bisa melakukannya. Aku tidak ingat lagu apa
yang ku mainkan, tapi setelah lagu itu selesai aku mulai menangis."
Yusuf
mengalami pertentangan batin tentang keinginannya untuk bermusik lagi. Di masa
itu perang berkecamuk di Afghanistan dan konflik terjadi di Irak. Yusuf berpikir
bahwa dunia perlu melihat setidaknya satu Muslim tanpa kekerasan di TV.
"Ada begitu banyak pertentangan di dunia," katanya. "Banyak orang
Islam yang datang padaku, menjabat tanganku dan berkata, 'Terima kasih! Terima
kasih." Aku mewakili cara mereka ingin terlihat. Banyak jalan tengah yang
terlupakan oleh banyak orang di dunia”.

Yusuf Islam playing in London in 2009. Samir Hussein/Getty Images
Yusuf
diam-diam mulai tampil di panggung di beberapa tempat di Eropa dan beberapa panggung
kecil di Amerika. Jumlah penontonnya hanya sedikit sampai Jon Stewart
mengundangnya tampil di acara Rally to Restore Sanity and/or Fear tahun 2010. Yusuf membawakan
lagu-lagu riang - ia menyanyikan "Peace Train" disaat Ozzy Osbourne mengeluarkan
lagu "Crazy Train" - tetapi hal itu justru membangkitkan kembali pertentangan
batin yang telah menghantui Yusuf selama seperempat abad.
Setelah Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa terhadap penulis
Salman Rushdie pada tahun 1989, Yusuf menyatakan bahwa " [Rushdie] harus
dibunuh. Quran menjelaskan : Jika seseorang memfitnah nabi, maka dia harus
mati.", di Kingston University London. Pernyataan Yusuf tersebut memicu
munculnya beragam pendapat, dan menjadi perbincangan sampai beberapa waktu
kemudian. Ketika Rushdie tahu bahwa Yusuf sepanggung dengan Osbourne, ia dengan
gusar menelepon Stewart. "Ini menjadi sangat jelas bagi ku bahwa [Yusuf] telah
mengangkangi dua dunia dengan cara yang sangat sulit," kata Stewart dua
tahun lalu. "Aku tidak akan mengundangnya, aku tidak mengira, jika aku
tahu itu.... Dibunuh karena telah mengatakan suatu hal adalah salah”.
Ini masih menjadi bahasan yang sensitif bagi Yusuf. Ketika saya
memulai pembicaraan terkait hal tersebut, anaknya ikut mendengarkan wawancara.
"Orang-orang perlu mendapatkan penjelasan," kata orang yang tidak
sependapat dengan Yusuf. "Itu 25 tahun yang lalu. Aku sudah beruban
sekarang. Ayolah. Aku dulu tidak cukup baik dalam menyampaikan sesuatu kepada
orang-orang. Sejauh yang aku pikirkan, seharusnya ini tidak menjadi hal utama dalam
hidupku".
Setelah itu, tampaknya topik wawancara akan segera berganti, dan
Yoriyos terlihat lega. Tapi Yusuf masih ingin menyampaikan pendapatnya tentang
kasus Salman Rushdie. "Aku percaya pada hukum," katanya. "Aku
tidak pernah menjadi pendukung fatwa [terhadap Rushdie], tetapi orang tidak
ingin mendengar itu karena mereka terus mengatakan bahwa aku percaya pada hukum
penghujatan (hukuman mati bagi yang telah menyebarkan fitnah pada Nabi Muhammad).
Yang aku katakan adalah, bagaimana Anda bisa menyangkal Rukum Islam ketiga ? Dan
adalah prinsip Islam bahwa Anda harus mematuhi hukum yang berlaku dimana Anda
tinggal".
Jawaban yang tidak mengandung penyesalan seperti itulah yang
membuat Rushdie dan banyak pendukungnya tidak bisa memaafkan Yusuf, dan Yusuf
tahu perseteruan mereka tidak akan pernah berakhir. "Itulah cara
hidup," katanya. "Aku tidak ingin mengkotak-kotak masyarakat dalam bingkai
agama, tetapi jika Anda memahami konsep utusan dalam setiap agama, pasti ada
pihak yang menjadi antagonis."
Salah satu lagu di album baru Yusuf, yang berjudul "Cat and
the Dog Trap (kucing dan perangkap anjing)", tampaknya membidik tentang
kontroversi itu. "Cat’s in a cage (kucing dalam kandang)," ia
bernyanyi. "Chained to a stone/Empty bowl by his side (terantai di
batu/mangkok kosong disisinya". Yusuf mengakui lagu ini menceritakan
tentang kisah hidupnya, tapi ia menolak untuk mengatakan siapa orang yang
disebutnya dog (anjing) yang bersifat antagonis di lagu tersebut, tapi mungkin
yang dimaksudkan adalah Rushdie. Yusuf hanya berkata, "I used to be
followed by a moonshadow," ketika didesak pertanyaan tentang topik itu.
"Sekarang aku diikuti oleh semua kesalahpahaman ini, dan mereka seperti
bola dan rantai. Aku hanya ingin menulis musik dari hati dan menyampaikan pesan
tentang adanya harapan dan pencarian untuk tempat yang lebih baik."
Ancaman ISIS telah membawa Amerika ke ambang perang lain di Irak,
tetapi anehnya malah membuat Yusuf optimis: "Sisi positifnya adalah bahwa
hal itu telah membuat semua kelompok sepakat bahwa [ISIS] tidak ada hubungannya
dengan Islam. Muslim telah dicitrakan pada begitu banyak tindakan tirani dan
rezim yang kejam. Itulah sebenarnya yang menjadi tujuan peristiwa Arab Spring
(perubahan politik di semenanjung Arab, dimulai tahun 2011, rakyat menginginkan
lepas dari rezim yang diktator), tetapi masalah datang saat dilakukan upaya
untuk mengatur suatu revolusi”.
Tour
Yusuf bertajuk "Yusuf / Cat Stevens" – adalah persembahan untuk
penggemar album klasiknya, merupakan karya dari seorang laki-laki yang
mencintai masa lalunya. "Ketika Anda sudah berjalan begitu lama, Anda
mungkin menyadari bahwa Anda telah berjalan terlalu jauh," katanya.
"Ada saatnya untuk mengatakan, 'Tunggu. Aku sudah sedikit kehilangan arah".