Etimologi (Asal usul) Fotografi
Potongan kata “Fotografi” biasanya dihubungkan dengan Sir John Herschel pada tahun 1839. Hal ini didasarkan pada Bahasa yunani φῶς (phos, atau phōtós) yang berarti “cahaya”, dan γραφή (Graphe), yang berarti “menggambar, menulis”, maka fotografi berarti “melukis dengan cahaya”.
Perkembangan Fotografi
500 S.M. (sebelum masehi)
500 Mo Ti (China) : Pendiri Mohism, Mo-ti, disebutkan sebagai orang pertama yang menemukan konsep dasar kamera lubang jarum.
500 Mo Ti (China) : Pendiri Mohism, Mo-ti, disebutkan sebagai orang pertama yang menemukan konsep dasar kamera lubang jarum.
300 S.M.
330 Aristotle (Greece) : Aristoteles menggunakan prinsip-prinsip dari kamera lubang jarum untuk mengamati gerhana matahari sebagian, yaitu dengan menggunakan bayangan daun-daun pada tembok/dinding rumah dan lubang di saringan.
330 Aristotle (Greece) : Aristoteles menggunakan prinsip-prinsip dari kamera lubang jarum untuk mengamati gerhana matahari sebagian, yaitu dengan menggunakan bayangan daun-daun pada tembok/dinding rumah dan lubang di saringan.
Sekitar tahun 1000
1000 Ibn al-Haytham al Hazen Alhazen (Persia) : Ibn al-Haytham mempelajari gambar terbalik yang dibentuk dari lubang kecil dan cahaya yang bergerak lurus. Diperiode yang sama, seorang ilmuwan Inggris, Roger Bacon, juga melakukan penilitian pada konsep kamera lubang jarum.
1000 Ibn al-Haytham al Hazen Alhazen (Persia) : Ibn al-Haytham mempelajari gambar terbalik yang dibentuk dari lubang kecil dan cahaya yang bergerak lurus. Diperiode yang sama, seorang ilmuwan Inggris, Roger Bacon, juga melakukan penilitian pada konsep kamera lubang jarum.
1050 Shen Kuo (Japan) : Shen melakukan percobaan dengan kamera obscura, dan orang pertama yang menerapkan hitungan matematika dan ilmiah pada kamera tersebut dalam bukunya 1088 AD, the Dream Pool Essay. Shen tidak pernah menyebutkan dalam bukunya bahwa ia adalah orang pertama yang bereksperimen dengan kamera lubang jarum.
Sekitar tahun 1400
1490 Leonardo DaVinci (Italy) : mempelajari karya Ibn al-Haytham yang diterjemahkan dalam bahasa Latin dan setelah melakukan kajian lebih jauh tentang optik dan penglihatan manusia, dia mengeluarkan penjelasan yang sangat rinci dari kamera obscura di Codex Atlanticus (1502) :
1490 Leonardo DaVinci (Italy) : mempelajari karya Ibn al-Haytham yang diterjemahkan dalam bahasa Latin dan setelah melakukan kajian lebih jauh tentang optik dan penglihatan manusia, dia mengeluarkan penjelasan yang sangat rinci dari kamera obscura di Codex Atlanticus (1502) :
“Jika tampak depan suatu bangunan, atau tempat, atau bidang disinari oleh matahari dan lubang kecil dibor di dinding pada sebuah kamar di bangunan lain yang menghadap tempat tersebut, dimana bangunan tempat dinding kamar yang dibor tersebut tidak secara langsung diterangi oleh matahari, maka semua benda yang disinari oleh matahari akan mengirimkan gambar mereka melalui lubang kecil (yang dibor) dan akan muncul terbalik di dinding yang menghadap lubang.
Anda akan menangkap gambar-gambar ini di selembar kertas putih, yang ditempatkan secara vertikal di ruang tidak jauh dari lubang itu, dan Anda akan melihat semua gambar benda tadi di kertas dalam bentuk dan warna alaminya, tapi mereka akan terlihat lebih kecil dan terbalik, karena persimpangan sinar di lubang itu. Jadi jika gambar tersebut berasal dari tempat yang disinari oleh matahari, mereka akan muncul pada kertas sesuai dengan warna benda aslinya. Kertas harus sangat tipis dan harus dilihat dari belakang”.
Sekitar tahun 1500
1550 Girolamo Cardano (Italy) : Dalam bukunya, “De Subtilitate”, menyebutkan kaca biconvex (kaca yang cembung di kedua sisi) membuat gambar dari kamera obscura menjadi lebih tajam.
1568 Daniele Barbaro (Italy) : Menulis “la pratica della perpettiva”, yang menjelaskan fungsi diafragma (celah) pada lensa kamera obscura untuk mengatur jumlah cahaya yang melewati lensa dan mengatur variasi ketajaman (Depth of Field – DOF) dari suatu gambar.
1589 Giambattista della Porta (Italy) : di era Renaissance, della Porta menjadi orang pertama yang mempelajari prinsip-prinsip optik yang kemudian digunakan untuk membuat kamera SLR (Single Lens Reflex), dan juga teleskop.
Sekitar tahun 1600
1611 Johannes Kepler (Germany) : seorang astronom terkenal mendesain kamera obscura dari bahan untuk tenda – bisa dibilang menciptakan kamera portabel pertama.
1611 Johannes Kepler (Germany) : seorang astronom terkenal mendesain kamera obscura dari bahan untuk tenda – bisa dibilang menciptakan kamera portabel pertama.
1614 Angelo Sala (Italy) : menemukan efek warna hitam/gelap dari perak nitrat yang terkena sinar matahari.
1666 Issac Newton : Menunjukkan bahwa cahaya adalah sumber warna. Dia menggunakan prisma untuk membagi sinar matahari menjadi warna-warna penyusunnya dan menggabungkan kembali warna-warna tersebut menjadi cahaya putih.
Sekitar tahun 1700
1727 Prof. Johann Heinrich Schulze : Professor J. Schulze mencampur kapur, asam nitrat dan perak pada bejana, terlihat adanya warna gelap dibagian bejana yang terkena sinar matahari. Hal ini menjadi penciptaan senyawa yang peka terhadap sinar matahari yang pertama.
1727 Prof. Johann Heinrich Schulze : Professor J. Schulze mencampur kapur, asam nitrat dan perak pada bejana, terlihat adanya warna gelap dibagian bejana yang terkena sinar matahari. Hal ini menjadi penciptaan senyawa yang peka terhadap sinar matahari yang pertama.
1758 Achromatic Lens : penemuan teleskop. Hal ini juga berdampak pada peningkatan ketajaman gambar dari kamera obscura.
1796 Aloys Senefeldr (Germany) : menciptakan litografi (sebuah metode untuk percetakan di atas permukaan licin). Joseph Nicephore Niépce sangat mencintai litografi tapi tidak bisa menggambar.
Sekitar tahun 1800
1800 Thomas Wedgwood (England) : penelitiannya membuktikan bahwa secara kimiawi dapat dilakukan pemindahan bentuk suatu objek tiga dimensi ke bentuk dua dimensi (secara manual atau mekanik) dengan bantuan cahaya. Membuat Foto pertamanya menggunakan proses kimia dan cahaya. Wedgwood menggunakan nitrat perak (nitrate of silver) pada kertas putih atau kulit. Satu-satunya kelemahannya adalah bahwa gambar itu tidak permanen dan memudar menjadi hitam jika terkena cahaya apa pun. Foto ini sangat tidak stabil dan cepat rusak.
1801 Thomas Young : Menyebutkan bahwa retina mata mengandung tiga jenis reseptor (penerima sinyal) yang masing-masing mengenali warna yang berbeda yaitu reseptor yang peka terhadap cahaya biru, cahaya hijau dan cahaya merah. Otak menafsirkan berbagai kombinasi warna-warna ini untuk membentuk warna lain dalam spektrum (kumpulan) warna.
1807 William Hyde Wollaston (England) : Mematenkan “camera lucida”. Alat ini seperti perangkat mata-mata karena pengguna harus mengintip melalui lensanya sehingga antara objek gambar dan media untuk menggambar ada pada sudut pandang yang sama dari si pengguna.
1819 Sir John F Herschel : Ahli astronomi dan ilmuwan, menemukan bahwa hyposulphite of soda (sodium hyposulphite/sodium thiosulfate, salah satu fungsinya untuk mengekstraksi perak dari bijihnya) larut dalam garam perak (silver salts/silver halide : senyawa kimia yang terbentuk dari unsur perak dan unsur halogen). Di waktu ini, penemuan tersebut hanya sebagai pengamatan dari sifat-sifat zat kimia, dan belum diketahui kegunaannya.
1824 First Permanent Image (France) by Joseph Nicephore Niépce : Menemukan proses dimana gambar yang diproyeksikan bisa ditempelkan pada bahan yang peka cahaya. Di usianya yang ke-53, menghasilkan karya besar dengan elemen utama : kamera, lensa biconvex, dan diafragma. Ketika mencoba untuk membuat gambar litograf, Joseph Niepce membuat gambar permanen (tidak mudah pudar/rusak) pertama menggunakan bahan peka cahaya dan menyebutnya proses heliography. Di awal-awal ditemukannya foto, diperlukan waktu 8 sampai 20 jam untuk 1 kali pengambilan gambar (saat itu dilakukan pengambilan foto atap rumah).
1834 William Henry Fox Talbot (England) : Menemukan “salted paper print” yaitu proses pencetakan negative film menjadi positive film (proses pencetakan foto diatas kertas). Dia membuat “sensitive paper” (kertas yang peka) untuk “photogenic drawing” (foto) dengan membasahi selembar kertas tulis dengan larutan garam meja biasa (natrium klorida), kemudian dikeringkan dengan kain lap, dan melapisi kertas tersebut dengan senyawa perak nitrat.
1839 Daguerreotype Introduced by Louis Jacques Mandé Daguerre : Meneruskan penelitian Niepce, menciptakan metode Daguerreotype yaitu proses cetak foto yang menggunakan uap merkuri. Daguerreotype menjadi cikal bakal fotografi modern. Namun, foto yang dihasilkan dari proses Daguerreotype sangat mudah rusak. Foto pertama yang dicetak adalah foto alam dan dipublikasikan pada tahun 1839.
Daguerreotype, "Boulevard du Temple", diambil tahun 1838
1839 Hippolyte Bayard : Memamerkan 30 foto di Paris pada tanggal 14 Juli (memanfaatkan kertas perak klorida, kalium iodida, dan pengaturan cahaya yang ada di kamera) tapi pamerannya tidak menarik minat massa karena semua orang hanya memperhatikan karya Daguerre, dan Bayard tidak menerima dukungan pemerintah atau ketenaran seperti yang didapatkan Daguerre.
1839 Herschel : Menemukan metode meningkatkan kepekaan kaca terhadap halida perak (silver halides/silver salt) dan menjadi lempeng kaca negative pertama. Membuat istilah “photography (fotografi)”, “negative (negative)” dan “positive (positif)”.
1840 Petzval : Mendesain lensa pertama yang khusus digunakan untuk fotografi.
1840 Mungo Ponton (Scottish) : Menggunakan kalium dikromat (potassium dichromate) untuk meningkatkan kepekaan kertas (tidak menggunakan garam perak karena harganya lebih mahal). Kepekaan kertas diatur dari jumlah bahan kimia yang dicampur air sebelum dikenakan pada kertas.
1840 Hercules Florence (a Frenchman living in Brazil) : mengklaim bahwa ia telah membuat foto dengan kamera dan mencetaknya, sekitar tahun 1832, dan membuat catatan dari tahun 1833 sampai 1837 dengan penjabaran teknik yang jelas serta telah menggunakan kata ÒphotographieÓ untuk menggambarkan apa yang telah dilakukannya.
1841 William Henry Fox Talbot (England) : Menemukan cara meningkatkan proses pencetakan foto : proses Calotype, kertas yang dilapisi dengan perak klorida (silver chloride) diletakkan di kamera obscura dan dikenai cahaya yang sudah diatur intensitasnya, bagian dari kertas yang terkena cahaya akan berubah warna menjadi hitam. Hal ini menciptakan negatif film yang kemudian digunakan untuk membuat positif film. Proses ini dipatenkan 8 Februari 1841.
1843 Talbot : membangun laboratorium cetak foto dengan proses calotype di Reading, Inggris.
1844 Mathew Brady (USA) : Membuka studio fotonya. Dia dan stafnya ikut dalam Perang Saudara Amerika, menghasilkan 7000 negatif film yang menceritakan tentang kengerian perang. Selain foto selama perang saudara, karyanya yang lain juga memberikan kontribusi pada Sejarah Amerika, dari pemerintahan presiden John Quincy Adams sampai William McKinley, dari presiden keenam sampai ke dua puluh lima Amerika.
1849 Jacob Riis (Denmark) born : Riis adalah jurnalis foto pertama yang menggunakan foto daerah kumuh dan rumah petak di New York dengan tujuan perubahan sosial.
Source : Timeline Fotografi













Tidak ada komentar:
Posting Komentar