Senin, 03 April 2017

YUSUF ISLAM’S GOLDEN YEARS : Yusuf Islam Tentang Islam dan Kembalinya Pada Musik.

Cat Steven yang masih bergulat dengan masa lalunya – dan akhirnya menjadi pemenang.


Yusuf Islam calls his Rock and Roll Hall of Fame induction "glorious," adding "And Nirvana was explosive." LEON NEAL/AFP/Getty Images

Tidak ada yang menyadari kehadiran Yusuf Islam di acara penganugrahan musik Rock and Roll tahun 2014. Penonton terpaku pada penampilan yang memukau dari grup band Nirvana dengan personel lengkap yang membawakan lagu berjudul Kiss, sebagian besar tidak tahu bahwa Cat Stevens, seorang penyanyi solo pria Amerika, akan tampil untuk yang pertama kali sejak berhenti bermusik pada tahun 1978.

Yusuf Islam at the Rock And Roll Hall Of Fame Induction Ceremony in April. Kevin Mazur/WireImage

Setelah pidato penerimaan penghargaan yang singkat dan penuh kebahagiaan, tanpa menyinggung persoalan agama atau politik, Yusuf tampil dengan gitar akustik dan menyanyikan "Father and Son" yang hit pada tahun 1970-an, dan berhasil membungkam Barclays Center di Brooklyn. Pada saat paduan suara mengiringi Yusuf di lagu "Peace Train," hampir semua penonton berdiri dan ikut bernyanyi. "Sangat megah," kata Yusuf. "Sangat menyenangkan bisa bernyanyi tanpa ada batasan apapun, dan tambahan paduan suara benar-benar membuat akhir yang sangat menakjubkan. Anakku mengenalkan aku pada musik Nirvana beberapa tahun yang lalu, dan penampilan mereka selalu meledak."

Sekarang, delapan bulan kemudian (artikel asli ditulis pada tgl 13 Januari 2015), dan Yusuf, 66, sedang menyeruput teh di ruang konferensi di gedung pencakar langit Sony di tengah kota Manhattan. Ditemani pengawal setianya, seorang laki-laki gemuk dengan tinggi sekitar 1.8 meter, duduk di bangku piano. Anak laki-laki Yusuf berusia 29 tahun, Yoriyos, duduk dan asyik dengan laptopnya. Uban di rambut Yusuf terlihat lebih banyak, dia memakai kacamata hitam, kaos abu-abu dengan logo Peace Train 2011 dan jaket biru. Penampilan yang berbeda sejak kembalinya ke dunia musik delapan tahun lalu, dia terlihat seperti bintang rock.

Walau telah bergaya santai dan bersikap ramah, Yusuf tampak tetap disegani oleh orang-orang disekelilingnya. Yoriyos menunjukkan rasa ketidaknyamanan jika pertanyaan yang diajukan ke ayahnya keluar dari bahasan seputar musik, selain itu ada dua wartawan yang menunggu di luar. Sebelum wawancara, mereka mendesak saya untuk lebih berhati-hati ketika akan membicarakan masalah "agama dan kontroversi di masa lalu."

Percakapan dimulai dengan tema yang jelas yaitu : Tell 'Em I'm Gone, album dari Yusuf dengan sentuhan musik R & B, adalah album ketiganya sejak 2006. Yusuf pindah ke Dubai pada tahun 2010 ("Aku suka sinar matahari", katanya) tapi kembali ke Los Angeles untuk merampungkan albumnya yang diproduseri oleh Rick Rubin. "Kami mengerjakan semuanya dalam seminggu," kata Yusuf. "Beberapa lagu yang direkam adalah lagu baru. Aku tidak suka terlalu lama di studio”. Beberapa kali dia ingin segera mengakhiri rekamannya, Yusuf berkata," Aku sudah menyelesaikannya, Rick. Aku tidak ingin melakukannya lagi”.

Yusuf baru-baru ini melakukan tur di Amerika Utara untuk yang pertama kali sejak tahun 1976. Tiket pertunjukan di Beacon Theatre New York terjual habis, tapi kemudian dia membatalkannya karena panitia melarang penjualan tiket secara online (paperless ticketing, pada mekanisme penjualan paperless ticket dibutuhkan nomor ID/KTP dari pembeli serta kartu kredit untuk pembayarannya sehingga tiket tidak bisa digunakan oleh orang lain atau dijual ke orang lain), sehingga saat itu banyak ditemukan tiket yang dijual kembali (calo tiket). "Seperti membenarkan bisnis percaloan, padahal itu salah," kata Yusuf.

Pembatalan pertunjukan di Beacon yang dilakukan oleh Yusuf adalah tindakan yang berani, berprinsip dan (menggambarkan) kepribadiannya yang dibentuk dari perjalanan karir yang panjang. Ia lahir dengan nama Steven Demetre Georgiou di London, putra dari seorang ayah Yunani dan ibu Swedia. Georgiou lahir di era dimana kota kelahirannya menjadi pusat musik Rock dunia. "Aku sangat beruntung," katanya. "Aku tinggal di jalan yang sama dengan 100 Club (tempat yang menampilkan pertunjukan musik dan komedi secara langsung), dan Dick James Music (yang mengenalkan grup band Beatles) hanya berjarak 4 rumah dari kedai kopi ayahku. Semuanya sangat dekat di West End London”.

Saat Mendengar Bob Dylan untuk pertama kali, tanpa disadarinya hal itu akan mengubah hidupnya. Georgiou muda yang masih berumur 18 tahun, mulai bermain di café-cafe di London dengan nama Cat Stevens dan menulis lagu yang abadi seperti "The First Cut Is the Deepest". Walau sempat didera penyakit tuberkulosis pada tahun 1968 dan hampir menewaskannya, karirnya bersinar di tahun 1970 ketika "Father and Son" dan "Wild World" menjadi lagu yang paling sering diperdengarkan di radio. Saat itu adalah masa yang sulit untuk seorang penyanyi-penulis lagu, dan Stevens berada di jalur yang tepat dan kemudian disejajarkan dengan James Taylor dan Carly Simon.

Ketika ia menjadi seorang superstar, Stevens tidak memiliki waktu untuk beristirahat – penyakit tuberkolosis menjadi akibat dari gaya hidupnya. "TB adalah jenis penyakit yang sangat menyedihkan," katanya. "Aku melakukan LSD beberapa kali, tapi aku harus meninggalkan kehidupan ala bintang rock karena aku sangat mengkhawatirkan kesehatan. Aku menjadi seorang vegetarian, dan kemana-mana membawa koper yang dipenuhi vitamin dan minuman khusus”.

Yusuf Islam in 1975. George Wilkes/Hulton Archive/Getty Images

Semuanya berubah di satu hari di tahun 1976, ketika Stevens pergi berenang di laut dekat Malibu. Saat ia mencoba untuk berenang kembali ke pantai, ia menyadari arus saat itu terlalu kuat untuk dilawan, dan setelah berjuang selama beberapa waktu dia merasa bahwa dia akan tenggelam. "Aku tidak punya kekuatan yang tersisa," kata Yusuf. "Hanya ada satu tempat untuk pergi, dan itu adalah Tuhan. Aku tidak pernah meragukan keberadaan Tuhan, tapi aku tidak pernah meminta kepada Nya karena semuanya tampak baik-baik saja dalam hidupku. Ini adalah antara hidup dan mati”.

Dia berjanji kepada Tuhan untuk patuh pada semua perintah dan larangan Nya jika Tuhan menyelamatkannya saat itu, dan tiba-tiba gelombang mendorongnya ke pantai. Tidak lama setelah itu, kakaknya, David, memberinya salinan Quran. "Ini terjadi sebelum Islam dikenal orang”, kata Yusuf. "Bahkan Revolusi Iran tidak diketahui banyak orang. Aku merasa seperti menemukan suatu rahasia yang menakjubkan dan agung”.

Dalam waktu dua tahun, Cat Stevens telah menjadi Yusuf Islam. Ia mengabdikan dirinya untuk Allah, mengatakan bahwa semua bentuk musik bertentangan dengan iman. Dia menjauh dari kontrak rekaman dan menjual seluruh gitarnya. Pendapatan satu-satunya berasal dari penerbitan, dia juga menyerahkan royalti dari lagu yang dia sebut sebagai anti-Tuhan karena cenderung untuk memperturutkan nafsu belaka : "Segala sesuatu yang mendorong cinta tanpa diikuti pernikahan atau hanya mengarah ke keinginan seksual". Lagu jenis itu berjumlah sekitar 40 persen dari kumpulan lagu-lagunya. "Take 'The Boy With a Moon and Star on His Head ', mungkin isi lagu itu tidak mengganggu Anda, tapi di lagu itu diceritakan tentang seorang laki-laki yang bersetubuh dengan putri seorang petani disaat sang laki-laki sedang menuju tempat pernikahannya. So, no.... "

Yusuf tak pernah lagi berhubungan dengan dunia musik. "Aku samar-samar tahu hal-hal seperti Madonna, MTV, Michael Jackson dan yang terjadi pada mereka, tapi aku tidak tertarik sama sekali," katanya. "Hal terakhir yang aku ingat adalah karya besar dari Stevie Wonder yaitu album Songs in the Key of Life". Yusuf disibukkan dengan mengurus keluarganya, sekolah Muslim yang dia dirikan di Inggris, dan yayasan Small Kindness, sebuah badan amal untuk membantu para korban perang dan bahaya kelaparan di negara berkembang.

Selama bertahun-tahun, anak-anak Yusuf mencoba mengembalikannya untuk bermusik lagi. Kemudian, suatu hari, beberapa bulan setelah 9/11, Yusuf memainkan gitar akustik milik anak laki-lakinya. Saat itu sudah larut malam, dan keluarganya sedang tidur. "Aku berpikir, 'Tidak ada salahnya mencoba,'" katanya. "Aku memainkan nada F, dan aku bisa melakukannya. Aku tidak ingat lagu apa yang ku mainkan, tapi setelah lagu itu selesai aku mulai menangis."

Yusuf mengalami pertentangan batin tentang keinginannya untuk bermusik lagi. Di masa itu perang berkecamuk di Afghanistan dan konflik terjadi di Irak. Yusuf berpikir bahwa dunia perlu melihat setidaknya satu Muslim tanpa kekerasan di TV. "Ada begitu banyak pertentangan di dunia," katanya. "Banyak orang Islam yang datang padaku, menjabat tanganku dan berkata, 'Terima kasih! Terima kasih." Aku mewakili cara mereka ingin terlihat. Banyak jalan tengah yang terlupakan oleh banyak orang di dunia”.

Yusuf Islam playing in London in 2009. Samir Hussein/Getty Images

Yusuf diam-diam mulai tampil di panggung di beberapa tempat di Eropa dan beberapa panggung kecil di Amerika. Jumlah penontonnya hanya sedikit sampai Jon Stewart mengundangnya tampil di acara Rally to Restore Sanity and/or Fear tahun 2010. Yusuf membawakan lagu-lagu riang - ia menyanyikan "Peace Train" disaat Ozzy Osbourne mengeluarkan lagu "Crazy Train" - tetapi hal itu justru membangkitkan kembali pertentangan batin yang telah menghantui Yusuf selama seperempat abad.

Setelah Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa terhadap penulis Salman Rushdie pada tahun 1989, Yusuf menyatakan bahwa " [Rushdie] harus dibunuh. Quran menjelaskan : Jika seseorang memfitnah nabi, maka dia harus mati.", di Kingston University London. Pernyataan Yusuf tersebut memicu munculnya beragam pendapat, dan menjadi perbincangan sampai beberapa waktu kemudian. Ketika Rushdie tahu bahwa Yusuf sepanggung dengan Osbourne, ia dengan gusar menelepon Stewart. "Ini menjadi sangat jelas bagi ku bahwa [Yusuf] telah mengangkangi dua dunia dengan cara yang sangat sulit," kata Stewart dua tahun lalu. "Aku tidak akan mengundangnya, aku tidak mengira, jika aku tahu itu.... Dibunuh karena telah mengatakan suatu hal adalah salah”.

Ini masih menjadi bahasan yang sensitif bagi Yusuf. Ketika saya memulai pembicaraan terkait hal tersebut, anaknya ikut mendengarkan wawancara. "Orang-orang perlu mendapatkan penjelasan," kata orang yang tidak sependapat dengan Yusuf. "Itu 25 tahun yang lalu. Aku sudah beruban sekarang. Ayolah. Aku dulu tidak cukup baik dalam menyampaikan sesuatu kepada orang-orang. Sejauh yang aku pikirkan, seharusnya ini tidak menjadi hal utama dalam hidupku".

Setelah itu, tampaknya topik wawancara akan segera berganti, dan Yoriyos terlihat lega. Tapi Yusuf masih ingin menyampaikan pendapatnya tentang kasus Salman Rushdie. "Aku percaya pada hukum," katanya. "Aku tidak pernah menjadi pendukung fatwa [terhadap Rushdie], tetapi orang tidak ingin mendengar itu karena mereka terus mengatakan bahwa aku percaya pada hukum penghujatan (hukuman mati bagi yang telah menyebarkan fitnah pada Nabi Muhammad). Yang aku katakan adalah, bagaimana Anda bisa menyangkal Rukum Islam ketiga ? Dan adalah prinsip Islam bahwa Anda harus mematuhi hukum yang berlaku dimana Anda tinggal".

Jawaban yang tidak mengandung penyesalan seperti itulah yang membuat Rushdie dan banyak pendukungnya tidak bisa memaafkan Yusuf, dan Yusuf tahu perseteruan mereka tidak akan pernah berakhir. "Itulah cara hidup," katanya. "Aku tidak ingin mengkotak-kotak masyarakat dalam bingkai agama, tetapi jika Anda memahami konsep utusan dalam setiap agama, pasti ada pihak yang menjadi antagonis."

Salah satu lagu di album baru Yusuf, yang berjudul "Cat and the Dog Trap (kucing dan perangkap anjing)", tampaknya membidik tentang kontroversi itu. "Cat’s in a cage (kucing dalam kandang)," ia bernyanyi. "Chained to a stone/Empty bowl by his side (terantai di batu/mangkok kosong disisinya". Yusuf mengakui lagu ini menceritakan tentang kisah hidupnya, tapi ia menolak untuk mengatakan siapa orang yang disebutnya dog (anjing) yang bersifat antagonis di lagu tersebut, tapi mungkin yang dimaksudkan adalah Rushdie. Yusuf hanya berkata, "I used to be followed by a moonshadow," ketika didesak pertanyaan tentang topik itu. "Sekarang aku diikuti oleh semua kesalahpahaman ini, dan mereka seperti bola dan rantai. Aku hanya ingin menulis musik dari hati dan menyampaikan pesan tentang adanya harapan dan pencarian untuk tempat yang lebih baik."

Ancaman ISIS telah membawa Amerika ke ambang perang lain di Irak, tetapi anehnya malah membuat Yusuf optimis: "Sisi positifnya adalah bahwa hal itu telah membuat semua kelompok sepakat bahwa [ISIS] tidak ada hubungannya dengan Islam. Muslim telah dicitrakan pada begitu banyak tindakan tirani dan rezim yang kejam. Itulah sebenarnya yang menjadi tujuan peristiwa Arab Spring (perubahan politik di semenanjung Arab, dimulai tahun 2011, rakyat menginginkan lepas dari rezim yang diktator), tetapi masalah datang saat dilakukan upaya untuk mengatur suatu revolusi”.

Tour Yusuf bertajuk "Yusuf / Cat Stevens" – adalah persembahan untuk penggemar album klasiknya, merupakan karya dari seorang laki-laki yang mencintai masa lalunya. "Ketika Anda sudah berjalan begitu lama, Anda mungkin menyadari bahwa Anda telah berjalan terlalu jauh," katanya. "Ada saatnya untuk mengatakan, 'Tunggu. Aku sudah sedikit kehilangan arah".


1 komentar: